Makalah Psikologi Perkembangan
PROSES
PERKEMBANGAN MASA DEWASA
AKHIR/LANJUT
USIA
Oleh:
Nurlina
Saputri/140402026
Tila Risya/140402030
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
AR-RANIRY BANDA ACEH
2016
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
perkembangan
manusia dapat digambarkan dalam bentuk garis sisi sebuah trapesium. Sejak usia
bayi hingga mencapai kedewasaan jasmani digambarkan dengan garis miring
menanjak. Garis itu menggambarkan bahwa selama periode tersebut terjadi proses
perkembangan yang progresif. Pertumbuhan fisik berjalan secara cepat hibgga
mencapai titik puncak perkembangannya, yaitu usia dewasa. Perkembangan
selanjutnya digambarkan oleh garis lurus sebagai gambaran terhadap kemantapan
fisik yang sudah dicapai. Sejak mencapai usia kedewasaan hingga ke usia sekitar
50 tahun, perkembangan fisik manusia boleh dikatakan tidak mengalami perubahan
yang banyak. Barulah di atas usia 50 tahun mulai terjadi penurunan perkembangan
yang drastis hingga mencapai usia lanjut. Oleh karena itu, umumnya garis
perkembangan pada periode ini digambarkan oleh garis menurun. Periode ini
disebut periode regresi (penurunan).
Sejalan
dengan penurunan tersebut maka secara psikis terjadi berbagai perubahan pula.
Perubahan-perubahan gejala psikis ini ikut memengaruhi berbagai aspek kejiwaan
yang telihat dari pola tingkah laku yang diperlihatkan. Rita Atkinson membagi
tingkat perkembangan menjadi delapan tahap, yaitu: (1) tahun-tahun pertama, (2)
tahun kedua, (3) tahun ketiga hingga tahun-tahun keempat, (4) tahun keenam
hingga pubertas, (5) adolesen, (6) kedewasaan awal, (7) kedewasaan menengah,
(8) tahun-tahun terakhir (usia lanjut). Pembagian ini didasarkan atas adanya
berbagai perubahan perkembangan fisik maupun psikis yang berbeda untuk setiap
tahap perkembangan pada sekitar usia-usia tersebut.[1]
Ada
beberapa hal yang perlu kita ketahui terkait pada orang usia lanjut seperti:
(1) ciri-ciri yang terdapat pada lansia, (2) sikap keberagamaan pada lansia,
(3) teori mengenai lansia, (4) tipe kepribadian yang dimiliki oleh lansia,
serta (5) pola kehidupan yang dimiliki oleh lansia yang akan kami bahas di
halaman selanjutnya.
B.
Rumusan Masalah
Adapun
rumusan masalah yang akan kami bahas dalam penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut:
1.
Bagaimanakah
ciri-ciri/karakteristik orang lanjut usia?
2.
Bagaimanakah
sikap keberagamaan yang dimiliki oleh orang lansia?
3.
Apa
sajakah teori tentang lansia?
4.
Bagaimanakah
tipe kepribadian yang terdapat pada orang lansia?
5.
Apa
sajakah pola kehidupan yang dimiliki oleh lansia?
C.
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Untuk
mengetahui Bagaimanakah ciri-ciri/karakteristik orang lanjut usia.
2.
Untuk
mengetahui bagaimanakah sikap keberagamaan yang dimiliki oleh orang lansia.
3.
Untuk
mengetahui apa sajakah teori tentang lansia.
4.
Untuk
mengetahui bagaimanakah tipe kepribadian yang terdapat pada orang lansia.
5.
Untuk
mengetahui apa sajakah pola kehidupan yang dimiliki oleh lansia.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Teori- Teori Menjadi Tua
Pada umumnya, usia madya atau usia
setengah baya dipandang masa usia di antara 40 sampai 60 tahun. Masa ini pada
akhirnya ditandai oleh adaya perubahan- perubahan jasmani dan mental. Pada usia
60 tahun, biasanya terjadi penurunan kekuatan fisik, sering pula diikuti dengan
penurunan daya ingat. Walaupun dewasa ini banyak yang mengalami
perubahan-perubahan ini lebih lambat daripada masa lalu, namn garis batas
tradisional yang masih tampak meningkatnya kecenderungan untuk pensiun pasca
usia 40-an sengaja ataupuntidak sengaja usia 60-an tahun dianggap sebagai garis
batas antara usia madya dan usia lanjut.
Oleh karena usia madya merupakan
periode yang panjang dalam rentang kehidupan manusia, biasanya usia tersebut
dibagi dalam dua sub bagian, yaitu usia madya dini yang membentang dari usia 40
hingga 50 tahun dan usia madya lanjut yang terbentang antara usia 50 sampai 60
tahun. Selama usia madya lanjut, perubahan fisik dan Psikologis yang pertama
kali mulai selama 40-an awal yang menjadi lebih tampak.
B.
Ciri- Ciri Menjadi Tua
Seperti halnya setiap periode dalam
rentang kehidupan, usia madya pun diasosiasikan dengan karakteristik tertentu
yang membuatnya berbeda. Berikut ini akan diuraikan 10 karakteristik yang amat
penting.
1.
Usia
Madya Merupakan Periode Yang Sangat Ditakuti
Ciri pertama dari usia madya ialah
masa tersebut merupakan periode yang sangat menakutkan. Diakui bahwa semakin
mendekati usia tua, periode usia madya semakin terasa lebih menakutkan dilihat
dari seluruh kehidupan manusia. Oleh karena itu, orang-orang dewasa tidak akan
mau mengakui bahwa mereka telah mencapai usia ini, sampai kelender dan cermin
memaksa mereka untuk mengakui hal ini.
Pria dan wanita mempunyai banyak
alasan yang kelihatan berlaku untuk mereka, untuk takut memasuki usia madya.
Beberapa diantaranya ialah banyaknya stereotif yang tidak menyenangkan tentang
usia madya, yaitu kepercayaan tradisional tentang kerusakan mental dan fisik
yang diduga disertai dengan penghormatan untuk masa tersebut oleh berbagai
kebudayaan negara lain. Semua ini memberi pengaruh yang kurang menguntungkan
terhadap sikap orang dewasa pada saat memasuki usia madya dalam kehidupan
mereka. Sementara mereka ketakutan pada usia madya, kebanyakan orang dewasa
menjadi rindu pada masa muda mereka dan berharap dapat kembali ke masa itu.
2.
Usia
Madya Merupakan Masa Transisi
Seperti halnya masa puber, yang
merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa remaja kemudian dewasa.
Demikian pula usia madya merupakan masa
dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan perilaku masa
dewasanya dan memasuki masa suatu periode dalam kehidupan yang akan diliputi
oleh ciri-ciri jasmani dan perilaku baru. Seperti yang telah diuraikan, bahwa
periode ini merupakan masa di mana pria mengalami perubahan keperkasaan dan
wanita dalam kesuburan.
Transisi senantiasa berarti
penyesuaian diri terhadap minat, nilai, dan pola prilaku yang baru. Pada madya,
cepat atau lambat, semua orang dewasa harus melakukan penyesuaian diri terhadap
berbagai perubahan jasmani dan harus menyadari bahwa pola perilaku pada usia
mudanya harus diperbaiki secara radikal. Penyesuaian untuk mengubah peranan
bahkan lebih sulit daripada penyesuaian untuk mengubah kondisi jasmani dan
minat.
Setiap pria dan wanita pasti
terdapat perubahan terhadap hubungan-hubungan yang berpusat pada pasangannya
bila dibandingkan dengan hubungan yang berpusat pada keluarga selama
tahun-tahun awal periode dewasa, ketika peran utam pria dan wanita dalam rumah
ialah sebagai orang tua.
Seperti perubahan peran penting yang
mungkin mengakibatkan suatu krisis yang besar atau kecil. Selama usia madya,
Kimmel telah mengidentifikasi tiga bentuk krisis pengembangan yang umum dan
hampir universal, seperti dijelaskan berikut ini:
Pertama, krisis sebagai masa tua ditandai dengan dindrom “Dimana kesalahan
kami?” Krisis ini terjadi apabila anak-anak gagal memenuhi harapan orang tua
dan para orang tua kemudian bertanya apakah mereka telah menggunakan metode
yang tepat dalam mendidik anak, dan menyalahkan diri mereka sendiri karena
kegagalan anak-anak untuk memenuhi harapan mereka.
Kedua, duka anaknya tidak dapat menerima pertambahan usianya, krisis ini
adalah krisis yang timbul karena orang tua berusia lanjut, sehingga sering
timbul reaksi dari anak-anaknya; “Saya benci menempatkan itu di situ.”
Akibatnya, banyak orang tua berusia madya yang berusaha memecahkan permasalahan
mereka tentang lanjut usia, merasa bersalah ketika anak-anak mereka tidak dapat
atau tidak mau menerima orang tua mereka yang berusia lanjut tinggal bersama
dalam rumah mereka.
Ketiga, kritis yang berhubungan dengan kematian, khususnya pada suami
istri. Menurut kimmel, hal ini ditandai dengan sikap” Bagaimana saya dapat
terus hidup?”, yang mewarnai penyesuaian pribadi dan sosial mereka, yang tidak
menyenangkan sampai krisis tersebut dapat dipecahkan menjadi kepuasan individu.
3.
Usia
Madya Merupakan Masa Stres
Ciri ketiga dari usia madya ialah
usia masa stres. Penyesuaian secara radikal terhadap peran dan pola hidup yang
berubah, khususnya bila disertai dengan berbagai perubahan fisik, selalu
cenderung merusak homeostatis fisik dan psikologis seseorang dan membawa ke
masa stres, suatu masa bila sejumlah penyesuaian yang pokok harus dilakukan di
rumah, bisnis dan aspek sosial kehidupan mereka.
Mamor telah membagi sumber-sumber
umum dari stres selama usia madya yang mengarah kepada keseimbangan, kedalam
empat kategori utama, yaitu:
· Stres somatik, yang disebabkan oleh keadaan jasmani yang
menunjukkan usia tua.
· Stres budaya, yang berasal dari penempatan nilai yang tinggi pada
kemudaan, keperkasaan, dan kesuksesan oleh kelompok budaya tertentu.
· Stres ekonomi, yang diakibatkan oleh beban keuangan dari mendidik
anak dan memberikan status simbol bagi seluruk anggota keluarga.
· Stres psikologis, yang mungkin diakibatkan oleh kematian suami atau
istri, kepergian anak dari rumah. Kebosanan terhadap perkawinan, atau rasa
hilangnya masa muda dan mendekati ambang kematian.
4.
Usia
Madya Merupakan “Usia yang Berbahaya”
Ciri keempat bahwa umumnya usia ini
dianggap atau dipandang sebagai usia yang berbahaya dalam rentang kehidupan.
Cara biasa menginterprestasikan
“usia berbahaya” ini berasal dari kalangan pria yang ingin melakukan
pelampiasan untuk kekerasan yang berakhir sebelum memasuki usia lanjut.
Terhadap apa saja yang disekelilingnya, kelihatannya bahwa orang yang berusia
madya berusaha mencari percontohan kegiatan dan pengalaman baru. Priode ini
dapat didramatisasi dengan lolosnya episodik ke dalam hubungan ekstramarital,
atau dengan bentuk alkoholisme. Bagi beberapa orang krisis usia madya dapat
berakhir dengan kesusahan yang permanen dan semakin permanen dan semakin
pendeknya usia mereka.
Usia madya dapat menjadi dan
merupakan bahaya dalam beberapa hal lain juga. Saat ini merupakan suatu masa di
mana seseorang mengalami kesusahan fisik sebagai akibat dari terlalu
banyak bekerja, rasa cemas yang
berlebihan, ataupun kurang memerhatikan kehidupan. Timbulnya penyakit jiwa
datang dengan cepat di kalangan pria dan wanita, dan gangguan ini berpuncak
pada suicide (bunuh diri), khususnya di kalangan pria.
5.
Usia
Madya Merupakan “Usia Canggung”
Ciri
kelima dari usia madya dikenal dengan istilah “usia serba canggung”. Sama
seperti remaja, bukan anak-anak dan bukan juga dewasa, demikian juga pria dan
wanita berusia madya bukan “muda” lagi tetapi bukan juga tua. Orang yang
berusia madya seolah-olah berdiri di antara generasi pemberontak yang lebih
muda dan generasi warga senior. Mereka secara terus menerus menjadi sorotan dan
menderita karena hal-hal yang tidak menyenangkan dan memalukan yang disebabkan
oleh kedua generasi tersebut.
Mereka
merasa bahwa keberadaan mereka dalam masyarakat tidak dianggap, orang-orang
berusia madya sedapat mungkin berusaha untuk tidak dikenal orang lain,
keinginan ini tampak pada cara mereka berpakaian. Sebagian besar dari mereka
berusaha untuk berpakaian sederhana mungkin namun masih menggunakan gaya yang
berlaku pada masa seterusnya. Sikap konservasif ini mempengaruhi cara mereka
memilih macam materi yang dimiliki, seperti rumah, kendaraan, serta pola
perilaku, baik dalam cara mereka menghibur atau menari. Semakin mereka kurang
menarik masyarakat yang memuja kaum muda.
6.
Usia
Madya Merupakan Masa Berprestasi
Ciri
keenam merupakan masa berprestasi. Menurut Erikson, usia madya merupakan masa
krisis di mana baik “generasivitas”- kecenderungan untuk menghasilkan- maupun
stagnasi-kecenderungan untuk tetap berhenti-akan dominan. Menurutnya selama
usia madya, orang akan menjadi lebih sukses atau sebaliknya mereka akan
berhenti dan tidak mengerjakan sesuatu apapun lagi. Apalagi usia madya
mempunyai Kemauan yang kuat untuk berhasih dan menunggu dari masa-masa
persiapan dan kerja keras yang dilakukan sebelumnya.
Usia
madya seyogianyamenjadi masa tidak hanya keberhasilan keuangan dan sosial
tetapi juga untuk kekuasaan dan prestise. Biasanya, pria meraih puncak karier
mereka antara usia 40-50 tahun, yaitu setelah mereka puas terhadap hasil yang
diperoleh dan menikmati, hasil dari kesuksesan mereka sampai mereka mencapai
usia 60 an, yaitu ketika mereka dianggap terlalu tua dan biasanya harus
mewariskan pekerjaan kepada karyawan yang lebih muda dan lebih kuat. Usia madya
merupakan usia di mana peran
kepemimpinan pada pria dan wanita dalam pekerjaan, perindustrian dan organisasi
masyarakat merupakan imbalan atas prestasi yang dicapai. Kebanyakan organisasi
khususnya organisasi yang telah lama, memilih direktur yang berumur 50 tahun
atau lebih. Usia 50-an juga merupakan masa di mana para individu dapat mudah
dikenal dari berbagai perkumpulan profesional.
Oleh
karena peran kepemimpinan umumnya dipegang oleh berusia madya, mereka menyebut
diri sebagai “generasi pemimpin”. Pria dan wanita berusia madya sekalipun
mereka masih dibawah komando orang lain, namun mereka memahami bahwa mereka
merupakan kelompok umur yang penuh tenaga dibandingkan dengan kelompok umur
lain; mereka merupakan pembawa norma dan pembuat Keputusan; mereka hidup dalam
suat masyarakat yang sekalipunberorientasi ke masa muda, perlu dikendalikan
oleh kelompok berusia madya.
Neugarten,
menerangkan sikap ini sebagai bagian dari orang usia madya: “Keberhasilan orang
usia madya sering kali menunjukkan dirinya sebagai pengemudi
singkatnya,”pemberi perintah”.
7.
Usia
Madya Merupakan Masa Evaluasi
Ciri
ketujuh dari usia madya ialah usia ini merupakan masa evaluasi diri. Karena
usia madya pada umumnya merupakan saat pria dan wanita mencapai puncak
prestasinya, maka logislah apabila masa ini juga merupakan saat mengevaluasi
prestasi ini berdasarkan aspirasi mereka semula dan harapan-harapan orang lain,
Khususnya anggota keluarga dan teman. Acher, menyatakan: “Pada usia 20 kita
akan mengikat diri pada pekerjaan atau perkawinan. Selama akhir 30-an dan awal
40-an adalah umum bagi pria untuk melihat kembali keterikatan-keterikatan masa
awal ini”.
Sebagai
hasil dari evaluasi diri, Acher lebih lanjut mengatakan,”usia madya tampaknya
menuntut perkembangan perasaan yang lebih nyata dan berbeda dari yang lain.
Dalam perkembangan, setiap orang memiliki fantasi atau ilusi mengenai apa dan
bagaimana dirinya. Tanggung jawab lain pada usia madya mengenai apa dan
bagaimana dirinya. Tanggung jawab lain pada usia madya menyangkut hal fantasi
dan ilusi tersebut.”
8.
Usia
Madya Dievaluasi dengan Standar Ganda
Ciri kedelapan dari usia madya ialah
masa ini dievaluasi dengan standar ganda, satu standar bagi pria dan satu lagi
bagi wanita. Walaupun perkembangannya mengarah ke persamaan peran antara pria
dan wanita, baik di rumah, perusahaan, perindustrian, profesi, maupun kehidupan
sosial, namun masih terdapat standar ganda dalam usia. Meskipun standar ganda
ini banyak mempengaruhi banyak aspek terhadap kehidupan pria dan wanita usia
madya, tetapi ada dua aspek khusus yang perlu diperhatikan.
Pertama, aspek yang berkaitan dengan
perubahan jasmani. Contohnya ketika rambut pria menjadi putih, timbul
kerut-kerut dan keriput di wajah, dan terjadinya beberapa bagian otot yang
mengendur terutama otot sekitar pinggang. Berbagai perubahan yang terjadi biasa
dikenal dengan nama “pembeda”. Perubahan
fisik yang serupa pada wanita dipandang tidak menarik, dengan penekanan utama
“pakaian usia madya”.
Kedua di mana standar ganda dapat
terlihat nyata terdapat pada cara mereka menyatakan sikap pada usia tua. Ada
dua pandangan filosofis yang berbeda tentang bagaimana orang harus menyesuaikan
diri dengan usia madya. Pertama, mereka harus merasa muda secara aktif, kedua
mereka harus menua dengan anggun semakin lambat dan hati-hati, dan menalani
hidup dengan nyaman, ini merupakan pandangan atau filsafat “RockingHair”. Pada
unumnya wanita lebih mudah mengambil pandangan filsafat ini daripada pria,
walaupun pada kenyataanya ditemui bahwa pandangan ini lebih banyak berlaku pada
wanita dari kelas bawah daripada kelas menengah ke atas. (Frenkel dan Paker E)
9.
Usia
Madya Merupakan Masa Sepi
Ciri kesembilan dari usia madya
ialah masa sepi (emptynest), masa ketika anak-anak tidak lagi tinggal bersama
orang tua. Kecuali dalam beberapa kasus di mana pria dan wanita menikah lebih
lambat di bandingkan dengan usia rata-rata, atau menunda kelahiran anak hingga
mereka lebih mapan dalam karier, atau mempunyai keluarga besar sepanjang masa,
usia madya merupakan masa sepi dalam kehidupan perkawinan.
Setelah bertahun-tahun hidup dalam
sebuah rumah yang berpusat pada keluarga, umumnya orang dewasa menemukan
kesulitan dalam menyesuaikan diri dalam rumah yang berpusat pada pasangan suami
istri. Keadaan ini terjadi karena selama masa-masa mengasuh anak, suami dan
istri selalu berkembang terpisah dan mengembangkan minat masing-masing.
Akhirnya mereka hanya memiliki sedikit persamaan setelah minat mereka terhadap
anak-anak berkurang dan ketika mereka harus saling menyesuaikan diri dengan
sebaik-baiknya.
Terbukti juga bahwa, periode sepi
pada usia madya lebih bersifat traumatis bagi wanita daripada pria. Hal ini
benar khususnya pada wanita yang telah menghabiskan masa-masa dewasa mereka
dengan pekerjaan rumah tangga dan bagi mereka yang kurang memiliki minat atau
sumber daya untuk mengisi waktu senggang mereka pada waktu pekerjaanrumah
tangga berkurang atau selesai. Banyak yang mengalami tekanan batin karena
dipensiunkan (retirement-shock). Kondisi yang serupa juga dialami pria ketika
mereka mengundurkan diri dari pekerjaan.
10.
Usia
Madya Merupakan Masa Jenuh
Ciri ke-10 ini merupakan masa yang
penuh dengan kejenuhan pada akhir usia 30-an atau 40-an. Para pria menjadi
jenuh dengan kegiatan rutin sehari-hari dan kehidupan bersama keluarga yang
hanya memberikan sedikit hiburan. Wanita, yang menghabiskan waktunya untuk
memelihara ramah dan membesarkan anak-anaknya, bertanya-tanya apa yang akan
mereka lakukan pada usia setelah 20 atau 30 tahun kemudian. Wanita, yang tidak
menikah yang mengabdikan hidupnya untuk bekerja atau karier, menjadi bosan
dengan alasan yang sama bagi pria. Acher menerangkan tentang kejenuhan yang
dialami pria sebagai berikut:
Apabila anda berusia 40 tahun, semua
orang termasuk anda mengetahui bahwa anda dapat melakukan apa saja yang anda
jalankan. Dan pada waktu yang sama beberapa orang pria menjadi jenuh. Beberapa
orang mencari kekuasaan baru, bagaimanapun juga umumnya keadaan ini diketahui
dengan harapan semoga seseorang telah menggunakan kesempatannya yang berakhir
untuk mengubah arah dan untuk memilih sasaran- sasaran baru.
Kejenuhan tidak akan mendatangkan
kebahagiaan ataupun kepuasan pada usia manapun. Akibatnya, usia madya sering
kali merupakan periode yang tidak menyenangkan dalam hidup. Dalam studi
mengenai kenangan yang menyenangkan sepanjang umur 40-49 tahun terbukti sebagai
masa yang paling sedikit terdapat kebahagiaan. Hanya tahun-tahun setelah usia
60 tahun, mereka menemukan masa ini sebagai masa yang hampir tidak menyenagkan.
(Meltzer H. Dan D. Ludwig).[1]
C.
Sikap Keberagamaan
Kehidupan
keberagamaan pada usia lanjut ini menurut hasil penelitian psikologi ternyata
meningkat. M. Argyle mengutip sejumlah penelitian yang dilakukan oleh Cavan
yang mempelajari 1.200 orang sampel berusia antara 60-100 tahun. Temuan
menunjukkan secara jelas kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan yang semakin
meningkat pada umur-umur ini. Sedangkan pengakuan terhadap realitas tentang
kehidupan akhirat baru muncul sampai 100% setelah usia 90 tahun. Secara garis
besarnya ciri-ciri keberagamaan di usia lanjut adalah:
a.
Kehidupan
keagamaan pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kemantapan.
b.
Meningkatnya
kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan.
c.
Mulai
muncul pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat secara lebih
sungguh-sungguh.
d.
Sikap
keagamaan cenderung mengarah kepada kebutuhan saling cinta antar sesama
manusia, serta sifat-sifat luhur.
e.
Timbul
rasa takut kepada kematian yang meningkat sejalan dengan pertambahan usia
lanjutnya.
f.
Perasaan
takut pada kematian ini berdampak pada peningkatan pembentukan sikap keagamaan
dan kepercayaan terhadap adanya kehidupan abadi (akhirat).[2]
Sikap
sebagian besar orang berusia lanjut terhadap agama mungkin lebih sering
dipengaruhi oleh bagaimana mereka dibesarkan atau apa yang telah diterima pada
saat mencapai kematangan intelektualnya. Pola upacara keagamaan dan kehadiran
di tempat ibadah mempunyai banyak persamaan atau telah dimodifikasi oleh
lingkungan yaitu modifikasi yang masuk akal bagi setiap individu.
Semakin
lanjut usia seseorang, biasanya mereka menjadi semakin kurang tertarik terhadap
kehidupan duniawi dan lebih meningkatkan tentang kematian. Pendapat semacam ini
benar, khususnya bagi orang yang kondisi fisik dan mentalnya semakin memburuk.
Pada waktu kesehatannya memburuk mereka cenderung untuk berkonsentrasi pada
masalah kematian dan mulai dipengaruhi oleh perasaan seperti ini. Hal ini
secara langsung bertentangan dengan pendapat orang yang masih muda, di masa
kematian bagi mereka tampaknya masih jauh dan karena itu mereka kurang
memikirkan kematian.
D.
Pola Hidup Bagi Kaum Usia Lanjut
Pola
kehidupan di masa usia lanjut lebih beragam dibanding pada masa usia tengah
baya, karena pola hidupnya telah di standarisasi. Beberapa kondisi yang
mempengaruhi pilihan pola hidup bagi kaum usia lanjut antara lain:
a.
Status
ekonomi
b.
Status
perkawinan
c.
Kesehatan
d.
Kemudahan
dalam perawatan
e.
Jenis
kelamin
f.
Anak-anak
g.
Keinginan
untuk mempunyai teman
h.
iklim[3]
E.
Tipe Kepribadian
Tipe
kebribadian yang dimiliki oleh orang lansia mempengaruhi aktivitas hidupnya dan
mempengaruhi kepuasan hidup yang dirasakannya. Zainuddin Sri Kuntjoro
mengemukakan bahwa pada lansia yang sehat, kepribadiannya tetap berfungsi
dengan baik, kecuali kalau mereka mengalami gangguan kesehatan jiwanya atau
tergolong patologik.
Sifat
kepribadian seseorang sewaktu muda akan lebih nampak jelas setelah memasuki
lansia sehingga masa muda diartikan sebagai karikatur kepribadian lansia.
Dengan memahami kepribadian lansia tentu akan lebih memudahkan masyarakat
secara umum dan anggota keluarga lansia tersebut secara khusus, dalam
memperlakukan lansia dan sangat berguna bagi kita dalam mempersiapkan diri jika
suatu hari nanti memasuki masa lansia.
Adapun
beberapa tipe kepribadian lansia seperti yang dikemukakan oleh Zainuddin Sri
Kuntjoro adalah sebagai berikut:
a.
Tipe
Konstruktif
Model
tipe kepribadian ini sejak muda umumnya mudah menyesuaikan diri dengan baik
terhadap perubahan dan pola kehidupannya. Sejak muda perilakunya positif dan
konstruktif serta hampir tidak pernah bermasalah, baik di rumah, di sekolah,
maupun dalam pergaulan sosial. Perilakunya baik, adaptif, aktif, dinamis,
sehingga setelah selesai mengikuti studi ia mendapatkan pekerjaan dengan mudah
dan dalam bekerja pun tidak bermasalah.
Karier
dalam pekerjaan juga lancar begitu juga dalam kehidupan berkeluarga, tenang dan
damai semua berjalan dengan normatif dan lancar. Dapat dikatakan bahwa tipe
kepribadian model ini adalah tipe ideal, seolah-olah orang tidak pernah
menghadapi permasalahan yang menggoncangkan dirinya sehingga hidupnya terlihat
stabil dan lancar. Pada masa lanjut usia model kepribadian ini dapat menerima
kenyataan, sehingga pada saat memasuki usia pensiun ia dapat menerima dengan
suka rela dan tidak menjadikannya sebagai suatu masalah, karena itu post power
sindrome juga tidak dialami.
b.
Tipe
Kepribadian Mandiri
Model
kepribadian tipe ini sejak masa muda dikenal sebagai orang yang aktif dan
dinamis dalam pergaulan sosial, senang menolong orang lain, memiliki
penyesuaian diri yang cepat dan baik, banyak memiliki kawan dekat namun sering
menolak pertolongan atau bantuan orang lain. Tipe kepribadian ini seolah-olah
pada dirinya memiliki prinsip “jangan menyusahkan orang lain” tetapi menolong
orang lain itu penting. Jika mungkin segala keperluannya diurus sendiri, baik
keperluan sekolah, pakaian sampai mencari pekerjaan dan mencari pasangan adalah
urusan sendiri.
Pada
saat memasuki masa tuanya, disinilah mulai timbul gejolak, timbul perasaan
khawatir kehilangan anak buah, teman, kelompok, jabatan, status dan kedudukan
sehingga cenderung ia menunda untuk pensiun atau takut pensiun atau takut
menghadapi kenyataan. Termasuk dalam kelompok kepribadian ini adalah mereka
yang sering mengalami post power sindrome setelah menjalani masa pensiun.
Sedangkan tipe kepribadian ini yang selamat dari sindrome adalah mereka yang
biasanya telah menyiapkan diri untuk memiliki pekerjaan baru sebelum pensiun,
misalnya wira swasta atau kantor sendiri atau praktek pribadi sesuai dengan
profesinya masing-masing.
c.
Tipe
Kepribadian Tergantung
Tipe
kepribadian tergantung ditandai dengan perilaku yang pasif dan tidak berambisi
sejak anak-anak, remaja dan masa muda.
Kegiatan yang dilakukannya cenderung didasari oleh ikutan-ikutan karena diajak
oleh temannya atau orang lain. Karena pasif dan tergantung, maka jika tidak ada
teman yang mengajak timbul pemikiran yang optimistik, namun sukar melaksanakan
kehendaknya karena kurang memiliki inisiatif dan kreativitas untuk menghadapi
hal-hal yang nyata.
Pada
waktu sekolah mereka biasanya dikenal sebagai siswa yang pasif, tidak menonjol,
pergaulannya terbatas, begitu juga saat menjadi mahasiswa biasanya srba lamban
sehingga masa studinya juga lamban. Dalam mencari pekerjaan biasanya tergantung
pada orang lain, sehingga masuk usia kerja juga lamban dan kariernya tidak
menyolok. Pada saat pensiun mereka dengan senang hati menerima pensiun dan
dapat menikmati hari tuanya.
d.
Tipe
Kepribadian Bermusuhan
Tipe
kepribadian bermusuhan adalah model kepribadian yang tidak disenangi orang
karena perilakunya cenderung sewenang-wenang, galak, kejam, agresif, semaunya
sendiri dan sebagainya. Sejak masa sekolah dan remaja biasanya mereka sudah banyak
masalah, sering pindah-pindah sekolah, tidak disenangi guru, sehingga dia
menjadi siswa yang reputasinya negatif. Begitu juga setelah menjadi mahasiswa,
di kampus biasanya mereka dikenal sebagai tukang bikin ribut, prestasi akademik
kurang, namun biasanya pandai pacaran, mudah terjerumus dalam minum minuman
keras, menggunakan narkotik dan sejenisnya.
Model
kepribadian bermusuhan ini cenderung mengatakan bahwa oranglah yang berbuat
salah, banyak mengeluh dan bertindak agresif atau destruktif. Padahal dalam
kenyataan mereka lebih banyak berbuat kesalahan. Model kepribadian bermusuhan
ini juga takut menghadapi masa tua, sehingga mereka berusaha minum segala jenis
jamu atau obat agar terlihat tetap awet muda, mereka juga takut kehilaangan
power, takut pensiun dan paling takut akan kematian.
e.
Tipe
Kepribadian Kritik Diri
Tipe
kepribadian kritik diri ditandai adanya sifat-sifat yang sering menyesali diri
dan mengkritik dirinya sendiri. Misalnya merasa bodoh, pendek, kurus, terlalu
tinggi, terlalu gemuk dan sebagainya, yang menggambarkan bahwa mereka tidaak
puas dengan keberadaan dirinya. Sejak menjadi siswa mereka tidak memiliki
ambisi namun kritik terhadap dirinya banyak dilontarkan. Begitu juga setelah
dewasa dalam mencari pekerjaan dan bekerja juga tidak berambisi yang penting
bekerja namun karier tidak begitu diperhatikan.
Dalam
menghadapi masa pensiun mereka akan menerima dengan rasa berat, karena merasa
lebih tidak berharga lagi dan tidak dipakai. Model kepribadian inilah yang
sering terlihat pada lansia yang antara suami dan istri menjadi tidak akur,
sehingga masing-masing mengurusi kebutuhan sendiri-sendiri, tidak saling
menegur dan saling mengacuhkan walaupun hidup dalam satu atap.[4]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pada
umumnya, usia madya atau usia setengah baya dipandang masa usia di antara 40
sampai 60 tahun. Masa ini pada akhirnya ditandai oleh adaya perubahan-
perubahan jasmani dan mental. Pada usia 60 tahun, biasanya terjadi penurunan
kekuatan fisik, sering pula diikuti dengan penurunan daya ingat. Walaupun
dewasa ini banyak yang mengalami perubahan-perubahan ini lebih lambat daripada
masa lalu, namn garis batas tradisional yang masih tampak meningkatnya
kecenderungan untuk pensiun pasca usia 40-an sengaja ataupuntidak sengaja usia
60-an tahun dianggap sebagai garis batas antara usia madya dan usia lanjut.
Seperti
halnya setiap periode dalam rentang kehidupan, usia madya pun diasosiasikan
dengan karakteristik tertentu yang membuatnya berbeda. Berikut ini akan
diuraikan 10 karakteristik yang amat penting.
Sikap
sebagian besar orang berusia lanjut terhadap agama mungkin lebih sering
dipengaruhi oleh bagaimana mereka dibesarkan atau apa yang telah diterima pada
saat mencapai kematangan intelektualnya. Pola upacara keagamaan dan kehadiran
di tempat ibadah mempunyai banyak persamaan atau telah dimodifikasi oleh
lingkungan yaitu modifikasi yang masuk akal bagi setiap individu.
Pola
kehidupan di masa usia lanjut lebih beragam dibanding pada masa usia tengah
baya, karena pola hidupnya telah di standarisasi.
Tipe
kebribadian yang dimiliki oleh orang lansia mempengaruhi aktivitas hidupnya dan
mempengaruhi kepuasan hidup yang dirasakannya. Zainuddin Sri Kuntjoro
mengemukakan bahwa pada lansia yang sehat, kepribadiannya tetap berfungsi
dengan baik, kecuali kalau mereka mengalami gangguan kesehatan jiwanya atau
tergolong patologik.
B.
Saran
Demikian
makalah yang dapat kami tulis, semoga bermanfaat bagi teman-teman. Apabila ada
kesalahan dan kekurangan mohon kritik dan sarannya.
[1] Yudrik Jahja.
Psikologi Perkembangan, (Jakarta: KENCANA, 2012) Hlm. 254
[2] Jalaluddin.
Psikologi Agama, (Jakarta: RajaGrafindo, 2015) Hlm. 97
[3] Yudrik Jahja.
Psikologi Perkembangan, (Jakarta: KENCANA, 2012) Hlm. 332
[4] Zainuddin Sri
Kuntjoro. Memahami Kepribadian Lansia, (Jakarta: 2002)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar