Minggu, 09 Juli 2017

Psikologi Perkembangan

Makalah Psikologi Perkembangan


PROSES PERKEMBANGAN MASA DEWASA
AKHIR/LANJUT USIA



                                                               Oleh:       
Nurlina Saputri/140402026
Tila Risya/140402030



JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
AR-RANIRY BANDA ACEH
2016


BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

perkembangan manusia dapat digambarkan dalam bentuk garis sisi sebuah trapesium. Sejak usia bayi hingga mencapai kedewasaan jasmani digambarkan dengan garis miring menanjak. Garis itu menggambarkan bahwa selama periode tersebut terjadi proses perkembangan yang progresif. Pertumbuhan fisik berjalan secara cepat hibgga mencapai titik puncak perkembangannya, yaitu usia dewasa. Perkembangan selanjutnya digambarkan oleh garis lurus sebagai gambaran terhadap kemantapan fisik yang sudah dicapai. Sejak mencapai usia kedewasaan hingga ke usia sekitar 50 tahun, perkembangan fisik manusia boleh dikatakan tidak mengalami perubahan yang banyak. Barulah di atas usia 50 tahun mulai terjadi penurunan perkembangan yang drastis hingga mencapai usia lanjut. Oleh karena itu, umumnya garis perkembangan pada periode ini digambarkan oleh garis menurun. Periode ini disebut periode regresi (penurunan).
Sejalan dengan penurunan tersebut maka secara psikis terjadi berbagai perubahan pula. Perubahan-perubahan gejala psikis ini ikut memengaruhi berbagai aspek kejiwaan yang telihat dari pola tingkah laku yang diperlihatkan. Rita Atkinson membagi tingkat perkembangan menjadi delapan tahap, yaitu: (1) tahun-tahun pertama, (2) tahun kedua, (3) tahun ketiga hingga tahun-tahun keempat, (4) tahun keenam hingga pubertas, (5) adolesen, (6) kedewasaan awal, (7) kedewasaan menengah, (8) tahun-tahun terakhir (usia lanjut). Pembagian ini didasarkan atas adanya berbagai perubahan perkembangan fisik maupun psikis yang berbeda untuk setiap tahap perkembangan pada sekitar usia-usia tersebut.[1]
Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui terkait pada orang usia lanjut seperti: (1) ciri-ciri yang terdapat pada lansia, (2) sikap keberagamaan pada lansia, (3) teori mengenai lansia, (4) tipe kepribadian yang dimiliki oleh lansia, serta (5) pola kehidupan yang dimiliki oleh lansia yang akan kami bahas di halaman selanjutnya.

B.       Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan kami bahas dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah ciri-ciri/karakteristik orang lanjut usia?
2.      Bagaimanakah sikap keberagamaan yang dimiliki oleh orang lansia?
3.      Apa sajakah teori tentang lansia?
4.      Bagaimanakah tipe kepribadian yang terdapat pada orang lansia?
5.      Apa sajakah pola kehidupan yang dimiliki oleh lansia?

C.      Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui Bagaimanakah ciri-ciri/karakteristik orang lanjut usia.
2.      Untuk mengetahui bagaimanakah sikap keberagamaan yang dimiliki oleh orang lansia.
3.      Untuk mengetahui apa sajakah teori tentang lansia.
4.      Untuk mengetahui bagaimanakah tipe kepribadian yang terdapat pada orang lansia.
5.      Untuk mengetahui apa sajakah pola kehidupan yang dimiliki oleh lansia.


BAB II

PEMBAHASAN

A.      Teori- Teori Menjadi Tua

            Pada umumnya, usia madya atau usia setengah baya dipandang masa usia di antara 40 sampai 60 tahun. Masa ini pada akhirnya ditandai oleh adaya perubahan- perubahan jasmani dan mental. Pada usia 60 tahun, biasanya terjadi penurunan kekuatan fisik, sering pula diikuti dengan penurunan daya ingat. Walaupun dewasa ini banyak yang mengalami perubahan-perubahan ini lebih lambat daripada masa lalu, namn garis batas tradisional yang masih tampak meningkatnya kecenderungan untuk pensiun pasca usia 40-an sengaja ataupuntidak sengaja usia 60-an tahun dianggap sebagai garis batas antara usia madya dan usia lanjut.
            Oleh karena usia madya merupakan periode yang panjang dalam rentang kehidupan manusia, biasanya usia tersebut dibagi dalam dua sub bagian, yaitu usia madya dini yang membentang dari usia 40 hingga 50 tahun dan usia madya lanjut yang terbentang antara usia 50 sampai 60 tahun. Selama usia madya lanjut, perubahan fisik dan Psikologis yang pertama kali mulai selama 40-an awal yang menjadi lebih tampak.

B.       Ciri- Ciri Menjadi Tua

            Seperti halnya setiap periode dalam rentang kehidupan, usia madya pun diasosiasikan dengan karakteristik tertentu yang membuatnya berbeda. Berikut ini akan diuraikan 10 karakteristik yang amat penting.
1.      Usia Madya Merupakan Periode Yang Sangat Ditakuti
Ciri pertama dari usia madya ialah masa tersebut merupakan periode yang sangat menakutkan. Diakui bahwa semakin mendekati usia tua, periode usia madya semakin terasa lebih menakutkan dilihat dari seluruh kehidupan manusia. Oleh karena itu, orang-orang dewasa tidak akan mau mengakui bahwa mereka telah mencapai usia ini, sampai kelender dan cermin memaksa mereka untuk mengakui hal ini.
Pria dan wanita mempunyai banyak alasan yang kelihatan berlaku untuk mereka, untuk takut memasuki usia madya. Beberapa diantaranya ialah banyaknya stereotif yang tidak menyenangkan tentang usia madya, yaitu kepercayaan tradisional tentang kerusakan mental dan fisik yang diduga disertai dengan penghormatan untuk masa tersebut oleh berbagai kebudayaan negara lain. Semua ini memberi pengaruh yang kurang menguntungkan terhadap sikap orang dewasa pada saat memasuki usia madya dalam kehidupan mereka. Sementara mereka ketakutan pada usia madya, kebanyakan orang dewasa menjadi rindu pada masa muda mereka dan berharap dapat kembali ke masa itu.

2.      Usia Madya Merupakan Masa Transisi
Seperti halnya masa puber, yang merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa remaja kemudian dewasa. Demikian pula usia madya merupakan masa  dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan perilaku masa dewasanya dan memasuki masa suatu periode dalam kehidupan yang akan diliputi oleh ciri-ciri jasmani dan perilaku baru. Seperti yang telah diuraikan, bahwa periode ini merupakan masa di mana pria mengalami perubahan keperkasaan dan wanita dalam kesuburan.
Transisi senantiasa berarti penyesuaian diri terhadap minat, nilai, dan pola prilaku yang baru. Pada madya, cepat atau lambat, semua orang dewasa harus melakukan penyesuaian diri terhadap berbagai perubahan jasmani dan harus menyadari bahwa pola perilaku pada usia mudanya harus diperbaiki secara radikal. Penyesuaian untuk mengubah peranan bahkan lebih sulit daripada penyesuaian untuk mengubah kondisi jasmani dan minat.
Setiap pria dan wanita pasti terdapat perubahan terhadap hubungan-hubungan yang berpusat pada pasangannya bila dibandingkan dengan hubungan yang berpusat pada keluarga selama tahun-tahun awal periode dewasa, ketika peran utam pria dan wanita dalam rumah ialah sebagai orang tua.
Seperti perubahan peran penting yang mungkin mengakibatkan suatu krisis yang besar atau kecil. Selama usia madya, Kimmel telah mengidentifikasi tiga bentuk krisis pengembangan yang umum dan hampir universal, seperti dijelaskan berikut ini:
Pertama, krisis sebagai masa tua ditandai dengan dindrom “Dimana kesalahan kami?” Krisis ini terjadi apabila anak-anak gagal memenuhi harapan orang tua dan para orang tua kemudian bertanya apakah mereka telah menggunakan metode yang tepat dalam mendidik anak, dan menyalahkan diri mereka sendiri karena kegagalan anak-anak untuk memenuhi harapan mereka.
Kedua, duka anaknya tidak dapat menerima pertambahan usianya, krisis ini adalah krisis yang timbul karena orang tua berusia lanjut, sehingga sering timbul reaksi dari anak-anaknya; “Saya benci menempatkan itu di situ.” Akibatnya, banyak orang tua berusia madya yang berusaha memecahkan permasalahan mereka tentang lanjut usia, merasa bersalah ketika anak-anak mereka tidak dapat atau tidak mau menerima orang tua mereka yang berusia lanjut tinggal bersama dalam rumah mereka.
Ketiga, kritis yang berhubungan dengan kematian, khususnya pada suami istri. Menurut kimmel, hal ini ditandai dengan sikap” Bagaimana saya dapat terus hidup?”, yang mewarnai penyesuaian pribadi dan sosial mereka, yang tidak menyenangkan sampai krisis tersebut dapat dipecahkan menjadi kepuasan individu.

3.      Usia Madya Merupakan Masa Stres
Ciri ketiga dari usia madya ialah usia masa stres. Penyesuaian secara radikal terhadap peran dan pola hidup yang berubah, khususnya bila disertai dengan berbagai perubahan fisik, selalu cenderung merusak homeostatis fisik dan psikologis seseorang dan membawa ke masa stres, suatu masa bila sejumlah penyesuaian yang pokok harus dilakukan di rumah, bisnis dan aspek sosial kehidupan mereka.
Mamor telah membagi sumber-sumber umum dari stres selama usia madya yang mengarah kepada keseimbangan, kedalam empat kategori utama, yaitu:
·      Stres somatik, yang disebabkan oleh keadaan jasmani yang menunjukkan usia tua.
·      Stres budaya, yang berasal dari penempatan nilai yang tinggi pada kemudaan, keperkasaan, dan kesuksesan oleh kelompok budaya tertentu.
·      Stres ekonomi, yang diakibatkan oleh beban keuangan dari mendidik anak dan memberikan status simbol bagi seluruk anggota keluarga.
·      Stres psikologis, yang mungkin diakibatkan oleh kematian suami atau istri, kepergian anak dari rumah. Kebosanan terhadap perkawinan, atau rasa hilangnya masa muda dan mendekati ambang kematian.

4.      Usia Madya Merupakan “Usia yang Berbahaya”
Ciri keempat bahwa umumnya usia ini dianggap atau dipandang sebagai usia yang berbahaya dalam rentang kehidupan.
Cara biasa menginterprestasikan “usia berbahaya” ini berasal dari kalangan pria yang ingin melakukan pelampiasan untuk kekerasan yang berakhir sebelum memasuki usia lanjut. Terhadap apa saja yang disekelilingnya, kelihatannya bahwa orang yang berusia madya berusaha mencari percontohan kegiatan dan pengalaman baru. Priode ini dapat didramatisasi dengan lolosnya episodik ke dalam hubungan ekstramarital, atau dengan bentuk alkoholisme. Bagi beberapa orang krisis usia madya dapat berakhir dengan kesusahan yang permanen dan semakin permanen dan semakin pendeknya usia mereka.
Usia madya dapat menjadi dan merupakan bahaya dalam beberapa hal lain juga. Saat ini merupakan suatu masa di mana seseorang mengalami kesusahan fisik sebagai akibat dari terlalu banyak  bekerja, rasa cemas yang berlebihan, ataupun kurang memerhatikan kehidupan. Timbulnya penyakit jiwa datang dengan cepat di kalangan pria dan wanita, dan gangguan ini berpuncak pada suicide (bunuh diri), khususnya di kalangan pria.

5.      Usia Madya Merupakan “Usia Canggung”
Ciri kelima dari usia madya dikenal dengan istilah “usia serba canggung”. Sama seperti remaja, bukan anak-anak dan bukan juga dewasa, demikian juga pria dan wanita berusia madya bukan “muda” lagi tetapi bukan juga tua. Orang yang berusia madya seolah-olah berdiri di antara generasi pemberontak yang lebih muda dan generasi warga senior. Mereka secara terus menerus menjadi sorotan dan menderita karena hal-hal yang tidak menyenangkan dan memalukan yang disebabkan oleh kedua generasi tersebut.
Mereka merasa bahwa keberadaan mereka dalam masyarakat tidak dianggap, orang-orang berusia madya sedapat mungkin berusaha untuk tidak dikenal orang lain, keinginan ini tampak pada cara mereka berpakaian. Sebagian besar dari mereka berusaha untuk berpakaian sederhana mungkin namun masih menggunakan gaya yang berlaku pada masa seterusnya. Sikap konservasif ini mempengaruhi cara mereka memilih macam materi yang dimiliki, seperti rumah, kendaraan, serta pola perilaku, baik dalam cara mereka menghibur atau menari. Semakin mereka kurang menarik masyarakat yang memuja kaum muda.

6.      Usia Madya Merupakan Masa Berprestasi
Ciri keenam merupakan masa berprestasi. Menurut Erikson, usia madya merupakan masa krisis di mana baik “generasivitas”- kecenderungan untuk menghasilkan- maupun stagnasi-kecenderungan untuk tetap berhenti-akan dominan. Menurutnya selama usia madya, orang akan menjadi lebih sukses atau sebaliknya mereka akan berhenti dan tidak mengerjakan sesuatu apapun lagi. Apalagi usia madya mempunyai Kemauan yang kuat untuk berhasih dan menunggu dari masa-masa persiapan dan kerja keras yang dilakukan sebelumnya.
Usia madya seyogianyamenjadi masa tidak hanya keberhasilan keuangan dan sosial tetapi juga untuk kekuasaan dan prestise. Biasanya, pria meraih puncak karier mereka antara usia 40-50 tahun, yaitu setelah mereka puas terhadap hasil yang diperoleh dan menikmati, hasil dari kesuksesan mereka sampai mereka mencapai usia 60 an, yaitu ketika mereka dianggap terlalu tua dan biasanya harus mewariskan pekerjaan kepada karyawan yang lebih muda dan lebih kuat. Usia madya merupakan usia  di mana peran kepemimpinan pada pria dan wanita dalam pekerjaan, perindustrian dan organisasi masyarakat merupakan imbalan atas prestasi yang dicapai. Kebanyakan organisasi khususnya organisasi yang telah lama, memilih direktur yang berumur 50 tahun atau lebih. Usia 50-an juga merupakan masa di mana para individu dapat mudah dikenal dari berbagai perkumpulan profesional.
Oleh karena peran kepemimpinan umumnya dipegang oleh berusia madya, mereka menyebut diri sebagai “generasi pemimpin”. Pria dan wanita berusia madya sekalipun mereka masih dibawah komando orang lain, namun mereka memahami bahwa mereka merupakan kelompok umur yang penuh tenaga dibandingkan dengan kelompok umur lain; mereka merupakan pembawa norma dan pembuat Keputusan; mereka hidup dalam suat masyarakat yang sekalipunberorientasi ke masa muda, perlu dikendalikan oleh kelompok berusia madya.
Neugarten, menerangkan sikap ini sebagai bagian dari orang usia madya: “Keberhasilan orang usia madya sering kali menunjukkan dirinya sebagai pengemudi singkatnya,”pemberi perintah”.

7.      Usia Madya Merupakan Masa Evaluasi
Ciri ketujuh dari usia madya ialah usia ini merupakan masa evaluasi diri. Karena usia madya pada umumnya merupakan saat pria dan wanita mencapai puncak prestasinya, maka logislah apabila masa ini juga merupakan saat mengevaluasi prestasi ini berdasarkan aspirasi mereka semula dan harapan-harapan orang lain, Khususnya anggota keluarga dan teman. Acher, menyatakan: “Pada usia 20 kita akan mengikat diri pada pekerjaan atau perkawinan. Selama akhir 30-an dan awal 40-an adalah umum bagi pria untuk melihat kembali keterikatan-keterikatan masa awal ini”.
Sebagai hasil dari evaluasi diri, Acher lebih lanjut mengatakan,”usia madya tampaknya menuntut perkembangan perasaan yang lebih nyata dan berbeda dari yang lain. Dalam perkembangan, setiap orang memiliki fantasi atau ilusi mengenai apa dan bagaimana dirinya. Tanggung jawab lain pada usia madya mengenai apa dan bagaimana dirinya. Tanggung jawab lain pada usia madya menyangkut hal fantasi dan ilusi tersebut.”

8.      Usia Madya Dievaluasi dengan Standar Ganda
Ciri kedelapan dari usia madya ialah masa ini dievaluasi dengan standar ganda, satu standar bagi pria dan satu lagi bagi wanita. Walaupun perkembangannya mengarah ke persamaan peran antara pria dan wanita, baik di rumah, perusahaan, perindustrian, profesi, maupun kehidupan sosial, namun masih terdapat standar ganda dalam usia. Meskipun standar ganda ini banyak mempengaruhi banyak aspek terhadap kehidupan pria dan wanita usia madya, tetapi ada dua aspek khusus yang perlu diperhatikan.
Pertama, aspek yang berkaitan dengan perubahan jasmani. Contohnya ketika rambut pria menjadi putih, timbul kerut-kerut dan keriput di wajah, dan terjadinya beberapa bagian otot yang mengendur terutama otot sekitar pinggang. Berbagai perubahan yang terjadi biasa dikenal dengan nama “pembeda”.  Perubahan fisik yang serupa pada wanita dipandang tidak menarik, dengan penekanan utama “pakaian usia madya”.
Kedua di mana standar ganda dapat terlihat nyata terdapat pada cara mereka menyatakan sikap pada usia tua. Ada dua pandangan filosofis yang berbeda tentang bagaimana orang harus menyesuaikan diri dengan usia madya. Pertama, mereka harus merasa muda secara aktif, kedua mereka harus menua dengan anggun semakin lambat dan hati-hati, dan menalani hidup dengan nyaman, ini merupakan pandangan atau filsafat “RockingHair”. Pada unumnya wanita lebih mudah mengambil pandangan filsafat ini daripada pria, walaupun pada kenyataanya ditemui bahwa pandangan ini lebih banyak berlaku pada wanita dari kelas bawah daripada kelas menengah ke atas. (Frenkel dan Paker E)

9.      Usia Madya Merupakan Masa Sepi
Ciri kesembilan dari usia madya ialah masa sepi (emptynest), masa ketika anak-anak tidak lagi tinggal bersama orang tua. Kecuali dalam beberapa kasus di mana pria dan wanita menikah lebih lambat di bandingkan dengan usia rata-rata, atau menunda kelahiran anak hingga mereka lebih mapan dalam karier, atau mempunyai keluarga besar sepanjang masa, usia madya merupakan masa sepi dalam kehidupan perkawinan.
Setelah bertahun-tahun hidup dalam sebuah rumah yang berpusat pada keluarga, umumnya orang dewasa menemukan kesulitan dalam menyesuaikan diri dalam rumah yang berpusat pada pasangan suami istri. Keadaan ini terjadi karena selama masa-masa mengasuh anak, suami dan istri selalu berkembang terpisah dan mengembangkan minat masing-masing. Akhirnya mereka hanya memiliki sedikit persamaan setelah minat mereka terhadap anak-anak berkurang dan ketika mereka harus saling menyesuaikan diri dengan sebaik-baiknya.
Terbukti juga bahwa, periode sepi pada usia madya lebih bersifat traumatis bagi wanita daripada pria. Hal ini benar khususnya pada wanita yang telah menghabiskan masa-masa dewasa mereka dengan pekerjaan rumah tangga dan bagi mereka yang kurang memiliki minat atau sumber daya untuk mengisi waktu senggang mereka pada waktu pekerjaanrumah tangga berkurang atau selesai. Banyak yang mengalami tekanan batin karena dipensiunkan (retirement-shock). Kondisi yang serupa juga dialami pria ketika mereka mengundurkan diri dari pekerjaan.

10.  Usia Madya Merupakan Masa Jenuh
Ciri ke-10 ini merupakan masa yang penuh dengan kejenuhan pada akhir usia 30-an atau 40-an. Para pria menjadi jenuh dengan kegiatan rutin sehari-hari dan kehidupan bersama keluarga yang hanya memberikan sedikit hiburan. Wanita, yang menghabiskan waktunya untuk memelihara ramah dan membesarkan anak-anaknya, bertanya-tanya apa yang akan mereka lakukan pada usia setelah 20 atau 30 tahun kemudian. Wanita, yang tidak menikah yang mengabdikan hidupnya untuk bekerja atau karier, menjadi bosan dengan alasan yang sama bagi pria. Acher menerangkan tentang kejenuhan yang dialami pria sebagai berikut:
Apabila anda berusia 40 tahun, semua orang termasuk anda mengetahui bahwa anda dapat melakukan apa saja yang anda jalankan. Dan pada waktu yang sama beberapa orang pria menjadi jenuh. Beberapa orang mencari kekuasaan baru, bagaimanapun juga umumnya keadaan ini diketahui dengan harapan semoga seseorang telah menggunakan kesempatannya yang berakhir untuk mengubah arah dan untuk memilih sasaran- sasaran baru.
Kejenuhan tidak akan mendatangkan kebahagiaan ataupun kepuasan pada usia manapun. Akibatnya, usia madya sering kali merupakan periode yang tidak menyenangkan dalam hidup. Dalam studi mengenai kenangan yang menyenangkan sepanjang umur 40-49 tahun terbukti sebagai masa yang paling sedikit terdapat kebahagiaan. Hanya tahun-tahun setelah usia 60 tahun, mereka menemukan masa ini sebagai masa yang hampir tidak menyenagkan. (Meltzer H. Dan D. Ludwig).[1]

C.      Sikap Keberagamaan

Kehidupan keberagamaan pada usia lanjut ini menurut hasil penelitian psikologi ternyata meningkat. M. Argyle mengutip sejumlah penelitian yang dilakukan oleh Cavan yang mempelajari 1.200 orang sampel berusia antara 60-100 tahun. Temuan menunjukkan secara jelas kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan yang semakin meningkat pada umur-umur ini. Sedangkan pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat baru muncul sampai 100% setelah usia 90 tahun. Secara garis besarnya ciri-ciri keberagamaan di usia lanjut adalah:
a.       Kehidupan keagamaan pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kemantapan.
b.      Meningkatnya kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan.
c.       Mulai muncul pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat secara lebih sungguh-sungguh.
d.      Sikap keagamaan cenderung mengarah kepada kebutuhan saling cinta antar sesama manusia, serta sifat-sifat luhur.
e.       Timbul rasa takut kepada kematian yang meningkat sejalan dengan pertambahan usia lanjutnya.
f.       Perasaan takut pada kematian ini berdampak pada peningkatan pembentukan sikap keagamaan dan kepercayaan terhadap adanya kehidupan abadi (akhirat).[2]

Sikap sebagian besar orang berusia lanjut terhadap agama mungkin lebih sering dipengaruhi oleh bagaimana mereka dibesarkan atau apa yang telah diterima pada saat mencapai kematangan intelektualnya. Pola upacara keagamaan dan kehadiran di tempat ibadah mempunyai banyak persamaan atau telah dimodifikasi oleh lingkungan yaitu modifikasi yang masuk akal bagi setiap individu.

Semakin lanjut usia seseorang, biasanya mereka menjadi semakin kurang tertarik terhadap kehidupan duniawi dan lebih meningkatkan tentang kematian. Pendapat semacam ini benar, khususnya bagi orang yang kondisi fisik dan mentalnya semakin memburuk. Pada waktu kesehatannya memburuk mereka cenderung untuk berkonsentrasi pada masalah kematian dan mulai dipengaruhi oleh perasaan seperti ini. Hal ini secara langsung bertentangan dengan pendapat orang yang masih muda, di masa kematian bagi mereka tampaknya masih jauh dan karena itu mereka kurang memikirkan kematian.
D.      Pola Hidup Bagi Kaum Usia Lanjut

Pola kehidupan di masa usia lanjut lebih beragam dibanding pada masa usia tengah baya, karena pola hidupnya telah di standarisasi. Beberapa kondisi yang mempengaruhi pilihan pola hidup bagi kaum usia lanjut antara lain:
a.       Status ekonomi
b.      Status perkawinan
c.       Kesehatan
d.      Kemudahan dalam perawatan
e.       Jenis kelamin
f.       Anak-anak
g.      Keinginan untuk mempunyai teman
h.      iklim[3]

E.       Tipe Kepribadian

Tipe kebribadian yang dimiliki oleh orang lansia mempengaruhi aktivitas hidupnya dan mempengaruhi kepuasan hidup yang dirasakannya. Zainuddin Sri Kuntjoro mengemukakan bahwa pada lansia yang sehat, kepribadiannya tetap berfungsi dengan baik, kecuali kalau mereka mengalami gangguan kesehatan jiwanya atau tergolong patologik.
Sifat kepribadian seseorang sewaktu muda akan lebih nampak jelas setelah memasuki lansia sehingga masa muda diartikan sebagai karikatur kepribadian lansia. Dengan memahami kepribadian lansia tentu akan lebih memudahkan masyarakat secara umum dan anggota keluarga lansia tersebut secara khusus, dalam memperlakukan lansia dan sangat berguna bagi kita dalam mempersiapkan diri jika suatu hari nanti memasuki masa lansia.
Adapun beberapa tipe kepribadian lansia seperti yang dikemukakan oleh Zainuddin Sri Kuntjoro adalah sebagai berikut:
a.       Tipe Konstruktif
Model tipe kepribadian ini sejak muda umumnya mudah menyesuaikan diri dengan baik terhadap perubahan dan pola kehidupannya. Sejak muda perilakunya positif dan konstruktif serta hampir tidak pernah bermasalah, baik di rumah, di sekolah, maupun dalam pergaulan sosial. Perilakunya baik, adaptif, aktif, dinamis, sehingga setelah selesai mengikuti studi ia mendapatkan pekerjaan dengan mudah dan dalam bekerja pun tidak bermasalah.
Karier dalam pekerjaan juga lancar begitu juga dalam kehidupan berkeluarga, tenang dan damai semua berjalan dengan normatif dan lancar. Dapat dikatakan bahwa tipe kepribadian model ini adalah tipe ideal, seolah-olah orang tidak pernah menghadapi permasalahan yang menggoncangkan dirinya sehingga hidupnya terlihat stabil dan lancar. Pada masa lanjut usia model kepribadian ini dapat menerima kenyataan, sehingga pada saat memasuki usia pensiun ia dapat menerima dengan suka rela dan tidak menjadikannya sebagai suatu masalah, karena itu post power sindrome juga tidak dialami.

b.      Tipe Kepribadian Mandiri
Model kepribadian tipe ini sejak masa muda dikenal sebagai orang yang aktif dan dinamis dalam pergaulan sosial, senang menolong orang lain, memiliki penyesuaian diri yang cepat dan baik, banyak memiliki kawan dekat namun sering menolak pertolongan atau bantuan orang lain. Tipe kepribadian ini seolah-olah pada dirinya memiliki prinsip “jangan menyusahkan orang lain” tetapi menolong orang lain itu penting. Jika mungkin segala keperluannya diurus sendiri, baik keperluan sekolah, pakaian sampai mencari pekerjaan dan mencari pasangan adalah urusan sendiri.
Pada saat memasuki masa tuanya, disinilah mulai timbul gejolak, timbul perasaan khawatir kehilangan anak buah, teman, kelompok, jabatan, status dan kedudukan sehingga cenderung ia menunda untuk pensiun atau takut pensiun atau takut menghadapi kenyataan. Termasuk dalam kelompok kepribadian ini adalah mereka yang sering mengalami post power sindrome setelah menjalani masa pensiun. Sedangkan tipe kepribadian ini yang selamat dari sindrome adalah mereka yang biasanya telah menyiapkan diri untuk memiliki pekerjaan baru sebelum pensiun, misalnya wira swasta atau kantor sendiri atau praktek pribadi sesuai dengan profesinya masing-masing.

c.       Tipe Kepribadian Tergantung
Tipe kepribadian tergantung ditandai dengan perilaku yang pasif dan tidak berambisi sejak anak-anak,  remaja dan masa muda. Kegiatan yang dilakukannya cenderung didasari oleh ikutan-ikutan karena diajak oleh temannya atau orang lain. Karena pasif dan tergantung, maka jika tidak ada teman yang mengajak timbul pemikiran yang optimistik, namun sukar melaksanakan kehendaknya karena kurang memiliki inisiatif dan kreativitas untuk menghadapi hal-hal yang nyata.
Pada waktu sekolah mereka biasanya dikenal sebagai siswa yang pasif, tidak menonjol, pergaulannya terbatas, begitu juga saat menjadi mahasiswa biasanya srba lamban sehingga masa studinya juga lamban. Dalam mencari pekerjaan biasanya tergantung pada orang lain, sehingga masuk usia kerja juga lamban dan kariernya tidak menyolok. Pada saat pensiun mereka dengan senang hati menerima pensiun dan dapat menikmati hari tuanya.

d.      Tipe Kepribadian Bermusuhan
Tipe kepribadian bermusuhan adalah model kepribadian yang tidak disenangi orang karena perilakunya cenderung sewenang-wenang, galak, kejam, agresif, semaunya sendiri dan sebagainya. Sejak masa sekolah dan remaja biasanya mereka sudah banyak masalah, sering pindah-pindah sekolah, tidak disenangi guru, sehingga dia menjadi siswa yang reputasinya negatif. Begitu juga setelah menjadi mahasiswa, di kampus biasanya mereka dikenal sebagai tukang bikin ribut, prestasi akademik kurang, namun biasanya pandai pacaran, mudah terjerumus dalam minum minuman keras, menggunakan narkotik dan sejenisnya.
Model kepribadian bermusuhan ini cenderung mengatakan bahwa oranglah yang berbuat salah, banyak mengeluh dan bertindak agresif atau destruktif. Padahal dalam kenyataan mereka lebih banyak berbuat kesalahan. Model kepribadian bermusuhan ini juga takut menghadapi masa tua, sehingga mereka berusaha minum segala jenis jamu atau obat agar terlihat tetap awet muda, mereka juga takut kehilaangan power, takut pensiun dan paling takut akan kematian.

e.       Tipe Kepribadian Kritik Diri
Tipe kepribadian kritik diri ditandai adanya sifat-sifat yang sering menyesali diri dan mengkritik dirinya sendiri. Misalnya merasa bodoh, pendek, kurus, terlalu tinggi, terlalu gemuk dan sebagainya, yang menggambarkan bahwa mereka tidaak puas dengan keberadaan dirinya. Sejak menjadi siswa mereka tidak memiliki ambisi namun kritik terhadap dirinya banyak dilontarkan. Begitu juga setelah dewasa dalam mencari pekerjaan dan bekerja juga tidak berambisi yang penting bekerja namun karier tidak begitu diperhatikan.
Dalam menghadapi masa pensiun mereka akan menerima dengan rasa berat, karena merasa lebih tidak berharga lagi dan tidak dipakai. Model kepribadian inilah yang sering terlihat pada lansia yang antara suami dan istri menjadi tidak akur, sehingga masing-masing mengurusi kebutuhan sendiri-sendiri, tidak saling menegur dan saling mengacuhkan walaupun hidup dalam satu atap.[4]


BAB III

PENUTUP

A.      Kesimpulan

Pada umumnya, usia madya atau usia setengah baya dipandang masa usia di antara 40 sampai 60 tahun. Masa ini pada akhirnya ditandai oleh adaya perubahan- perubahan jasmani dan mental. Pada usia 60 tahun, biasanya terjadi penurunan kekuatan fisik, sering pula diikuti dengan penurunan daya ingat. Walaupun dewasa ini banyak yang mengalami perubahan-perubahan ini lebih lambat daripada masa lalu, namn garis batas tradisional yang masih tampak meningkatnya kecenderungan untuk pensiun pasca usia 40-an sengaja ataupuntidak sengaja usia 60-an tahun dianggap sebagai garis batas antara usia madya dan usia lanjut.
Seperti halnya setiap periode dalam rentang kehidupan, usia madya pun diasosiasikan dengan karakteristik tertentu yang membuatnya berbeda. Berikut ini akan diuraikan 10 karakteristik yang amat penting.
Sikap sebagian besar orang berusia lanjut terhadap agama mungkin lebih sering dipengaruhi oleh bagaimana mereka dibesarkan atau apa yang telah diterima pada saat mencapai kematangan intelektualnya. Pola upacara keagamaan dan kehadiran di tempat ibadah mempunyai banyak persamaan atau telah dimodifikasi oleh lingkungan yaitu modifikasi yang masuk akal bagi setiap individu.
Pola kehidupan di masa usia lanjut lebih beragam dibanding pada masa usia tengah baya, karena pola hidupnya telah di standarisasi.
Tipe kebribadian yang dimiliki oleh orang lansia mempengaruhi aktivitas hidupnya dan mempengaruhi kepuasan hidup yang dirasakannya. Zainuddin Sri Kuntjoro mengemukakan bahwa pada lansia yang sehat, kepribadiannya tetap berfungsi dengan baik, kecuali kalau mereka mengalami gangguan kesehatan jiwanya atau tergolong patologik.

B.       Saran
Demikian makalah yang dapat kami tulis, semoga bermanfaat bagi teman-teman. Apabila ada kesalahan dan kekurangan mohon kritik dan sarannya.






[1] Yudrik Jahja. Psikologi Perkembangan, (Jakarta: KENCANA, 2012) Hlm. 254
[2] Jalaluddin. Psikologi Agama, (Jakarta: RajaGrafindo, 2015) Hlm. 97
[3] Yudrik Jahja. Psikologi Perkembangan, (Jakarta: KENCANA, 2012) Hlm. 332
[4] Zainuddin Sri Kuntjoro. Memahami Kepribadian Lansia, (Jakarta: 2002)





[1] Jalaluddin. Psikologi Agama, (Jakarta: RajaGrafindo Persada: 2015) hlm. 95



 













Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Psikologi Perkembangan

Makalah Psikologi Perkembangan PROSES PERKEMBANGAN MASA DEWASA AKHIR/LANJUT USIA                                     ...